Ganesha, simbolisasi tentang “kecerdasan”

Di jaman dulu kecerdasan di identikan atau dilambangkan dengan bentuk arca Ganesha (manusia berkepala gajah), arca tersebut digambarkan dengan berbagai bentuk posisi, setelah copas sana sini saya menemukan hal yang seperti ini :

patung Ganesha candi Prambanan

patung Ganesha, candi Ganesha, Ubud-Bali

“Sri Maha Ganesha Statue Monument” in Lovina, Kalibukbuk Village, Buleleng Regency, Bali.

patung Ganesha, photographer Belanda 1867

patung Ganesha, pelataran musium Palembang

patung Ganesha, musium Nasional – Jakarta

patung Ganesha, Tirtakamdanu, Pamenang -Kediri

Ganesha digambarkan dengan bermacam-macam, ada yang duduk, ada yang berdiri, dan kadang digambarkan sedang menari. Jika dalam posisi duduk, Ganesha tidak dapat bersila, karena Ganesha selalu digambarkan berperut buncit.

Ganesha memiliki rambut yang disanggul ke atas menyerupai mahkota. Mahkota-nya berbentuk bulan sabit dan di atas bulan sabit ada tengkoraknya yang disebut Ardhacandrakapala, sebagai pertanda bahwa adalah anak Dewa Siwa. Ciri lainnya adalah trinetra, yang hanya dimiliki oleh Siwa dan Ganesha. Telinganya telinga gajah, dengan belalainya. Belalainya selalu menuju ke kiri menghisap “sesuatu” yang ada di mangkuk pada tangan sebelah kirinya melambangkan karakter kekanak-kanakan dalam diri Ganesha, yang menyatakan bahwa ia adalah seorang anak. Mangkok tersebut kadangkala digambarkan sebagai batok kepala, batok kepala yang dibelah. Simbol yang menggambarkan Ganesha sedang menyerap otak (kepala).  Ganesha disebut dewa ilmu pengetahuan karena ganesha digambarkan sedang menyerap otak, dimana otak digambarkan sebagai sumber asal akal manusia yang merupakan sumber ilmu pengetahuan.

Ganesha memiliki 4 tangan atau disebut juga catur biuja. jumlah tangan empat  membawa danta, aksamala, parasu, mangkok yang berisi air (ganesa India), Indonesia kosong (tanpa air). Dari keempat tangan, tangan yang di depan sebelah kanan membawa gading yang patah (ekadanta). Ada juga arca yang digambarkan utuh dan ada juga yang digambarkan patah. Patahan gading itu dapat digunakan ganesha untuk membunuh musuhnya.

Tangan sebelah kanan belakang membawa tasbih, sementara tangan kiri belakang membawa kapak. Sebagaimana penggambaran arca dewa lainnya, arca patung Ganesha memiliki lingkaran suci atau cahaya di belakang kepalanya, dalam bahasa sansekerta disebut Sirascakra (sira berarti kepala, cakra berarti roda atau lingkaran). Namun demikian arca Ganesha ada yang digambarkan dengan sandaran dan tanpa sandaran. Bila ditempatkan di tengah relung candi biasanya tidak memiliki sandaran. Ganesha juga memiliki tali kasta atau Upawita ular, selain itu juga dilengkapi dengan kalung, kelat bahu, gelang tangan dan gelang kaki.

Arca Ganesha lainnya digambarkan sedang berdiri dan mengangkat satu kakinya. Itu adalah Ganesha yang digambarkan sedang menari, oleh karena itu disebut juga raja tari.

Ganesha juga dikenal sebagai dewa penghalau bahaya atau pengusir rintangan. Selain itu Ganesha juga disebut ganapatya, pemimpin para gana, murid-murid Dewa Siwa. Ganesha dianggap sebagai panglima tinggi diantara jajaran ketentaraan Dewa Siwa. Karena itu Ganesha juga dikenal juga sebagai dewa perang. Wujud lain nya adalah  sebagai Skanda yang terkenal, lalu Sanmatura (beribu enam orang), ada kisahnya yang tersendiri, kemudian beliau juga dikenal dengan sebutan sakral  seperti Kartikeya, Brahma-sasta, Gangeya (putra Gangga) dan Swaminatha (pewaris ayahnya).

Ada bentuknya yang bersifat brahmacari dan di sebut Varasiddhi Vinayaka. Bentuknya yang  feminin disebut Ganesani, Vinayaki, Sarpakarni, Lambhamekhala, dan berbagai sebutan lainnya.

Dewa ini beristri dua, yakni  Valli dan Devasena. Istri yang  pertama adalah putri  seorang kepala suku sederhana yang berlatar  belakang kehidupan  agrikultur dan seni pahat kayu. Istri kedua adalah putri Dewa Indra, rajanya  para dewa, keduanya  menyimbolkan persamaan derajat,  dan sang dewa mencintai  kedua-duanya secara sama rata. Maksud sebenarnya adalah  sebuah hasil pemikiran  yang  menakjubkan  yang sudah ada semenjak zaman dahulu yaitu, seandainya agrikultur  dan industri digabung dengan kehidupan indra (sepiritual ke Yang Maha Kuasa), digabung  dengan pertahanan negara, maka akan  dihasilkan suatu masyarakat yang beradab dan sejahtera secara lahir dan batin, secara ekonomi, sosial dan tata negara, gemah ripah  lohjinawi. Prinsip  ini ternyata sudah sangat dihayati oleh nenek-moyang kita di Nusantara ini.

Wahana atau kendaraan Ganesha adalah tikus.

Ada beberapa versi  kelahiran dewa Ganeshya ini :

1. Suatu saat, para dewa dalam keadaan yang sulit memutuskan bahwasanya mereka membutuhkan seorang pemimpin baru guna mengakhiri  berbagai rintangan, kemunduran Dewa Shiwa berinkarnasi melalui Dewi Parwati dan lahir sebagai Ganeshya.
2. Pada suatu waktu untuk mengisi waktu kosong, karena marah kepada suaminya Dewi Uma membuat  sebuah boneka kecil berkepala gajah (ada yang mengisahkan  berkepala seorang pemuda tampan, ada beberapa  versi dari kisah ini  sendiri) dan  melemparkannya ke sungai Gangga, dan kemudian lahirlah dewa berkepala gajah yang disebut juga Dvaimatura (yang beribu dua).
3. Konon suatu hari, Dewi Parwati  membuat sebuah boneka kecil dari selendangnya, dan memberikan nafas kehidupan kepada boneka ini. Setelah menjelma menjadi seorang pemuda  kecil yang tampan,  putra ini mendapatkan tugas  menjaga pintu rumah  Parwati dan menghadang siapapun  yang masuk,  karena beliau ingin menyendiri  memuja Yang Maha Kuasa. Konon Dewa Shiwa yang serba tahu kembali ke rumahnya,  dan ternyata  sang putra tidak mengenalinya karena memang tidak diberi tahu oleh ibunya, maka beliaupun dihadang masuk  oleh  dewa kecil ini, yang  mengaku putra Parwati. Dalam kemarahannya maka Shiwa sebagai Rudra langsung menebas  kepala anak ini, dan langsung saja kepala tersebut  dimakan habis oleh  para gunasnya dewa Shiwa. Dewi Parwati sedih sekali akan perihal ini, dan minta anak  tersebut dihidupkan kembali. Shiwa yang  menyesal minta maaf kepada putranya dan mencarikan kepala baru  yang sesuai dengan kodrat dan misinya berbentuk kepala  gajah. Gajah  yang sedang mengobrak-abrik  sebuah desa ini dipenggal kepalanya untuk diletakkan  di atas kepala Ganeshya, yang kemudian mendapatkan  sebuatan Ganapati, bentuk Rudra yang keras. Ganeshya  sendiri adalah bentuk lembut Sang Parwati.
4. Ganeshya  lahir dari unsur  ether  dewa Shiwa, karena teramat tampan, ia kemudian  menyebabkan dewi Parwati mengutuknya menjadi buruk rupa.
5. Ganeshya adalah Sri Krishna dalam bentuk manusia, sewaktu Sani, seorang dewa planet memandang ke arah Sri Kreshna ini, tiba-tiba kepala Sri Krishna terbang ke Goloka tempat kediaman Sri Krishna (Kreshna), raga tanpa  kepala tersebut kemudian diganti dengan kepala gajah.

Konon ada 36 kisah lebih mengenai kelahiran Ganeshya ini, di dalam salah satu kisah  tersebut, Ganeshya kehilangan ujung gadingnya yang patah melawan  Parasurama

………………………………………………………….

Ilustrasi cerita diatas didapat dari berbagai site, trus kenapa atau bagaimana koq dianggap sebagai lambang kecerdasan? Sebab arca Ganesha mempunyai ciri sebagai berikut…

Berkepala gajah :

Bentuk kepala gajah : bentuk kepala gajah mewakili dari sebuah pemikiran yang cerdas atau otak yang besar dalam terjemahan gampangan nya, sebab dalam penggambarannya sesuatu yang besar digambarkannya biasanya sangat berlebihan.

Telinga gajah : telinga gajah berarti peka terhadap semua informasi artinya dapat menyerap semua informasi terlepas benar atau salah nya informasi tersebut, telinga yang lebar menggambarkan penyerapan informasi dari khalayak umum (dari semua sisi).

Mata gajah : mata gajah yang terlihat sempit atau menyipit melambangkan penuh perhatian pada segala hal.

Hidung gajah : melambangkan kemampuan memprediksi jauh kedepan sebab kan kalo punya belalai panjang kalo mencium bau sesuatu kan ga perlu sampai jongkok atau mengerakkan bandan.

Berbadan gemuk : artinya memilki data yang cukup buaaaanyak sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.

Kemudian kebanyakan yang digunakan sebagai lambang kecerdasan yang lebih umum seperti bentuk patung yang berada di candi prambanan

Nah digambar tersebut belalai/hidung arca ganesha menjuntai kearah mangkok disebelah kiri yang berisi kosong (versi Indonesia)….. dapat di artikan sebagai berikut, memprediksikan sesuatu hal dengan pertimbangan logika yang matang dan terperinci secara jelas, sehingga ketika sebuah alasan atau sebuah prediksi disampaikan dapat diterima dengan gamblang oleh semua pihak…. Hlo artinya koq bisa gitu? dari mana itu koq langsung keluar arti seperti itu? Hidung gajah kan udah diterangkan di atas, kemudian menjulur ke sebalah kiri artinya mendulukan pemikiran sebelah kiri (otak kiri) mangkok kosong mengartikan memperediksikan sebuah hal yang merupakan kewajibannya (soalnya kan di genggam ama tangan arca ganesha)

Bertangan empat, yang atu kan pegang mangkok…. Jadi tinggal tiga yang pegang tiga macam barang…. yaitu :

Tasbih : menyiratkan mempelajari segala hal harus berurutan.

Kapak : mengartikan sebuah senjata multi fungsi disamping bisa digunakan untuk membela diri, bisa diartikan menjadi pimpinan (kan jaman dulu kapak dianggap sebagai simbul dari senjata tetua kelompok), atau berfungsi dapat memprediksikan atau meramalkan keadaan alam sehingga dapat menyelaraskan diri dengan alam ( fungsi kapak juga dapat diartikan sebagai alat pembelah kayu, hla kayu kan produk alam)

Gading : senjata alami yang berasal dari tubuh gajah, artinya dapat menguasai aspek aspek terpenting dari tubuh manusia sehingga bisa digunakan untuk mempersenjatai diri nya secara alamiah/ tanpa bantuan dari alat diluar tubuhnya.

Berwahana/berkendaraan tikus

Badan gede naik tikus ga penyet tuh? Ya jangan diliat simbul gambar dengan analogi seperti itu dong ya jelas ga nyambung :D , di berbagai site banyak menerangkan tentang wahana tikus tunggangan dari Ganesha, tetapi kalo saya pikir pikir kadang buaaaanyak yang lepas dari konteks menerangkan arca Ganesha sebagai lambang kecerdasan, sebab kalo saya liat tikus dan kelakuan tikus yang sering berseliweran disekitar rumah, konteks arti tikus lebih merujuk kepada sifat tikus tersebut, apa to sifat tikus itu? Pertama dia bisa masuk pada setiap celah rumah, kemudian dia pandai bersembunyi, trus kalo diburu kalo ga dipukul/ditembak dikepala nya tikus mah lama matinya, mempunyai kecepatan dalam mengembangkan diri (beranak pinak gitu) trus berpenciuman tajam (abis kalo dirumah kadang kalo makanan nya dikasih racun yang berbau si tukus ga mau makan) trus suka mengintai di tempat yang tersembunyi…… nah kalo diliat dari kelakuan nya seperti itu aja (sebab sifat nya yang njengkelin masih teramuat buanyauuuak) maka tikus bisa diasumsikan sebagai mata mata ulung nan cerdik, nah jadi yambungkan kan ? :D

Jadi jelaslah bahwa sebuah kecerdasan multi harus lah selalu mempunyai mata mata yang ulung dan cerdik…. Seperti gambaran arca ganesha berwahanakan tikus.

Ya mungkin pengartian saya tentang arca Ganesha kelewat ngawur dan serampangan, tapi bila diartikan demikian lebih jelas maknanya ketika sebuah lambang kecerdasan dilambangkan sebagai arca Ganesha…. Dan mungkin hal itu yang diwariskan para leluhur ketika mengatakan “lihatlah arca Ganesha, itu adalah lambang dari kecerdasan….”

Smoga bermanpaat ………………….. :)

About these ads
Gallery | This entry was posted in pengetahuan, prambanan, sekilas tentang budaya and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s