Prambanan ~ mari mengenal lebih dekat tentang panel – relief – dsb

Candi Prambanan

Candi Prambanan didirikan oleh seorang raja dari wangsa Sanjaya yang beragama Hindu-Siwa  pada tahun 856 Masehi.

Candi Prambanan berupa sebuah kompleks bangunan candi terdiri dari tiga halaman dengan candi Siwa sebagai pusatnya, terletak di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, kurang lebih 17 km sebelah timur kota Yogjakarta.“Penemuan kembali” Prambanan

Candi Prambanan merupakan sebuah kompleks percandian yang dilaporkan pertama kali  oleh CA Lons seorang pegawai VOC Semarang pada tahun 1733 Masehi.

Sejak Stamford Raffles menjadi Gubernur Jendral di Jawa, candi Prambanan mulai diteliti secara sistimatis.

YW Ijzerman tahun 1885 mulai membersihkan reruntuhan candi, dan  selanjutnya ia menulis laporan pekerjaannya dalam bukunya yang berjudul Beschrijving der Oudheden (Uraian tentang Bangunan-Bangunan Purbakala). Diteruskan oleh J.Groneman dan seorang juru foto orang Jawa bernama Kasian Cephas, telah membuat foto-foto  dokumentasi candi Prambanan. Pekerjaan memugar kompleks Prambanan terus dilakukan.
Dimasa Jepang dan Perang Kemerdekaan RI

Ketika masa pendudukan Jepang pegawai-pegawai Belanda ditawan oleh orang Jepang, dan pekerjaan dilanjutkan oleh orang-orang Indonesia yaitu Suhamir yang dibantu oleh Samingun dan Suwarno. Demikian pula ketika terjadi revolusi fisik  tahun 1948 pekerjaan memugar terhenti sama sekali karena pegawai-pegawainya takut untuk masuk bekerja.

Kerusakan  terjadi karena desa Bogem dekat Prambanan menjadi markas tentara kolonial Belanda, dan rakyat menjarah kantor Prambanan yang diperkirakan menyimpan benda-benda dari emas, sehingga banyak arsip yang hilang. Setelah Jogjakarta kembali kepada pemerintah Republik Indonesia tahun 1949,  pekerjaan memugar candi Prambanan menjadi lancar.

Pekerjaan selesai tahun 1952, namun tidak pernah difikirkan memberi penangkal petir untuk bangunan setinggi itu, maka pada tahun itu pula puncak candi Prambanan disambar petir. Perbaikan dilakukan bersama-sama dengan memperbaiki ragam hias pada bingkai-bingkai atap serta gapura-gapura bilik candi, sehingga perbaikan tuntas sudah pada tahun 1953 dan bangunan Siwa Prambanan diresmikan tahun 1954 oleh Presiden Republik Indonesia 1, Presiden Soekarno.

KOMPLEK DAN BANGUNAN-BANGUNAN CANDI

Gugusan candi Prambanan yang berjumlah ratusan itu dikelilingi oleh tiga lapis pagar keliling, masing – masing  berdenah bujur sangkar dengan empat buah pintu gerbang di setiap sisi.

Halaman Pusat

Tembok keliling yang paling dalam memagari halaman pusat mempunyai ukuran 110×110 meter.  Dalam halaman pusat atau halaman pertama ini  berdiri delapan buah candi,  yaitu candi Siwa sebagai candi terbesar menghadap ke timur, diapit oleh candi Wisnu di sebelah utara dan candi Brahma di sebelah selatan.

Di depan ketiga candi tersebut ada tiga buah candi yang lebih kecil, dan biasanya disebut candi Wahana, dan dua buah candi berdiri dekat pintu gerbang sebelah utara dan selatan, kedua bangunan ini disebut candi Apit.

Di samping delapan candi besar tersebut , pada halaman pusat ini terdapat delapan candi kecil-kecil ukurannya, dan terletak di delapan penjuru mata angin, tidak jauh dari pagar keliling. Ke-8 candi ini biasanya disebut sebagai candi Kelir, namun dalam karangan ini  disebut candi Mata Angin atau candi Astadikpalaka  yang berarti Penjaga 8 mata angin.


Dalam agama Hindu, terdapat kelompok dewa-dewa penjaga arah mata angin, ada yang  empat (Catur Lokapala), ada yang berjumlah delapan (Astadikpalaka), berjumlah sepuluh (Dasa Lokapala). (Pada masa tumbuhnya kebudayaan Hindu-Saiwa periode Jawa Timur (abad X_XVI) terdapat Sembilan bentuk Siwa yang dikenal sebagai Nawasanga).

Candi kecil berjumlah 8 di halaman pusat komplek Prambanan adalah tempat dewa – dewa  Astadikpalaka, karena dalam kitab Vastusastra, dewa-dewa tersebut sangat penting kedudukannya pada setiap upacara keagamaan. Relief dewa-dewa Astadikpalaka ini pun dijumpai pada dinding tubuh candi Siwa.  Halaman pusat ini ternyata  lebih tinggi 4.20 meter dari halaman  ke II, sehingga untuk ke halaman II harus melalui 9 buah anak tangga.

Halaman II

Halaman ke-II berukuran  220×220 meter, dan dari sisa-sisanya diketahui pada halaman II ini dahulunya terdapat 224 buah candi Perwara, semuanya menghadap keluar, maksudnya tidak menghadap ke halaman pusat.  Telah ada beberapa candi Perwara yang bisa dipugar, namun kebanyakan sulit dikembalikan ke bentuk semula, karena batu-batunya telah banyak yang hilang.

Halaman III

Menarik perhatian adalah bentuk halaman III yang tidak simetris dengan halaman I dan ke II, apa sebabnya belum jelas.  Ada kemungkinan halaman ke III sengaja di buat asimetris untuk menampung air sungai Opak dijadikan semacam kolam buatan.  Dalam sebuah bangunan suci, peranan air (tirtha) sangat penting, air tersebut bisa berupa sungai, kolam.   Dalam  prasasti Siwagrha tahun 856 Masehi yang menguraikan tentang kompleks bangunan suci yang didirikan, mungkin kompleks Prambanan. Dalam prasasti tersebut ada kalimat berbunyi …lwah inalihaken… berarti “sungai dipindahkan”.  Apa yang dimaksud aliran sungai Opak dipindahkan agar air sungai bisa ditampung untuk kolam  ?  Halaman III yang letaknya lebih rendah dari halaman II, dahulunya dipakai untuk mendirikan bangunan-bangunan profan tempat penginapan para pendeta dan mungkin pula untuk istirahat para peziarah .  Luas halaman ke III ini adalah 390×390 meter.

Candi Siwa

Candi Siwa merupakan candi terbesar dan terindah  di antara seluruh candi-candi dalam kompleks.Candi berdenah bujur sangkar berukuran 43,46 x 42,60 meter, tinggi 47 meter.

Candi mempunyai tiga bagian, yaitu kaki-tubuh-atap, yang diperkirakan masing-masing bagian tersebut adalah lambang dari  bhurloka (dunia bawah)-bhuwarloka (dunia manusia)-swarloka (dunia atas).  Mempunyai empat buah bilik, yaitu bilik utama atau bilik pusat (garbhagrha) dengan pintu menghadap ke timur,  dan tiga buah bilik penampil pada sisi selatan, barat, utara.

Di ruang pusat (garbhagrha) terdapat arca Siwa Mahadewa berdiri di atas yoni.

Adapun ruang-ruang penampil diisi arca-arca Agastya (sebelah selatan), Ganesa (sebelah barat) dan Durga Mahisasuramardini yang dikenal sebagai Lara Jonggrang di bilik penampil sebelah utara. Masing-masing penampil ini mempunyai tangga untuk masuk ke bilik-bilik tersebut. Atap candi menjulang tinggi, terdiri dari 3 lapis yang dipenuhi dengan hiasan ratna atau amalaka tinggi dan puncak candi pun berbentuk amalaka tinggi.

Keistimewaan lain candi Siwa adalah dijumpainya bangunan-bangunan kecil pada sudut setiap pipi tangga dan kaki candi. Pada awalnya tidak diketahui fungsi bangunan kecil-kecil tersebut, namun ketika diadakan pengukuran halaman-halaman kompleks candi, dapat diketahui bahwa salah satu candi kecil itu yaitu yang terletak di selatan tangga sebelah timur, adalah tanda titik silang halaman  I dan II.  Hal ini menarik, karena dalam kitab Vastusastra di India, titik silang seharusnya ada di ruang pusat (garbhagrha) candi.  Namun para seniman Jawa Kuna tidak ingin mengikuti aturan kitab Vastusastra, dan titik silang sengaja di hindarkan dari ruang tersuci tersebut.  Hal semacam ini pun terdapat pada beberapa candi Mataram kuna lainnya, misalnya pada candi Sambisari.
Kalpataru dan relief Prambanan

Selain struktur candi yang megah, candi Siwa memiliki ragam hias dan relief yang sangat menarik. Salah satu ragam hias yang sangat menarik pada dinding bagian luar kaki candi Siwa, maupun kaki candi  lainnya terdapat ragam hias berupa pohon kalpataru (kalpawrksa) yang mengapit relief singa, sebaliknya masing-masing pohon diapit oleh binatang-binatang tertentu.  ragam hias ini dikenal sebagai motif Prambanan.

Dari hampir 200 buah motif Prambanan, tidak ada dua motif yang secara detail mempunyai persamaan. Kalpataru adalah “pohon kehidupan” yang tumbuh di sorga dewa Indra. Pohon Kehidupan ini ada lima macam, selain kalpataru ada pohon parijata yang dipakai hiasan candi-candi masa Klasik Muda, terutama candi Kidal dari masa Singasari. Di bagian luar kaki candi Siwa terdapat 64 buah relief motif Prambanan.  Sementara itu, di deretan panil di atas  panil-panil berhiaskan motif Prambanan terdapat 70 buah panil  menggambarkan tiga orang yang sedang menari. Relief ini adalah cuplikan dari kitab Natyasastra yang menggambarkan Siwa dalam tarian Tandawa. Gerakan-gerakan tari Tandawa ini sebenarnya menggambarkan lima tugas (pancakrtya) dewa Siwa sebagai dewa tertinggi, yaitu “penciptaan, perlindungan, penghancuran, menghilangkan kebodohan, memberi  anugerah.

Selain ragam hias ornamental yang indah,  di bagian dalam pagar langkan  candi Siwa terdapat relief wiracarita Ramayana yang dipahat di 42 panil, mulai dari sisi timur. Cerita dimulai dari Wisnu menitis ke Rama, yang diakhiri oleh cerita Rama dan bala tentara kera membuat jembatan menuju ke Alengka (cerita Wayang Rama Tambak). Oleh karena cerita belum selesai, maka cerita Ramayana di lanjutkan di bagian dalam pagar langkan candi Brahma sebanyak 30 panil.
Berikut ini diuraikan secara garis besar  adegan-adegan cerita Rama yang dapat kita ikuti  kalau kita berjalan menelusuri lorong selasar (pradaksinapatha) dari sisi timur dengan menyebelah-kanankan (mapradaksina) candinya, maksudnya mengikuti arah jarum jam:

Lima dewa menangis di hadapan Wisnu dengan permohonan agar dewa Wisnu turun ke dunia membunuh Rawana. Wisnu duduk di atas ular Ananta dan di sebelahnya duduk Garuda yang mempersembahkan sekuntum bunga teratai setengah mekar (1).

Pendeta Wiswamitra minta pertolongan ayah Rama untuk membasmi para raksasa yang mengganggu pertapaan mereka. Rama dan Laksmana diutus mewakili  raja, berhasil membunuh para raksasa, termasuk rasaksa Taksaka dan Marichi (2-5).

Selanjutnya Rama dan Laksmana meminang Sita, puteri raja Janaka, dan Rama menang dalam swayamwara setelah berhasil membentangkan busur dewa Siwa (6).

Selesai pernikahan, Rama, Sita dan Lakmana pulang ke Ayodhya, di tengah jalan dihadang oleh Rama Parasu. Namun Rama Parasu dikalahkan oleh Rama (7-8).  Raja Dasaratha, ayah Rama, ingin  agar Rama menggantikannya sebagai raja di Ayodhya, menggantikannya. Tetapi keinginan itu ditentang oleh salah satu isteri raja yaitu Kaikeyi.  Akhirnya pengganti raja adalah Bharata, anak Kaikeyi, dan Rama, Sita dan Laksmana diharuskan pergi dari Ayodhya dan tinggal di hutan Dandaka (9-11).

Mereka bertiga berangkat ke hutan Dandaka, karena kesedihannya raja Dasaratha wafat, mayatnya dibakar (12-13).

Bharata pergi menyusul Rama dan minta agar Rama kembali ke Ayodhya untuk menjadi raja, namun permintaan Bharata ditolak.  Ia memberi sepasang terompahnya sebagai wakil, dan sepasang terompah itu diletakkan di atas singgasana. Rama juga mengajarkan delapan (asta) tingkah laku yang baik (brata) yang diharapkan dilakukan oleh seorang raja.  Ajaran niti ini di Jawa dikenal sebagai Astabrata (14).

Rombongan Rama memasuki hutan rimba dan banyak mendapat godaan, di antaranya godaan seekor burung gagak yang mengganggu Sita. Rama marah dan burung gagak dikutuk bulunya menjadi hitam (15-16).
Sarpanaka adik Rawana, datang melamar Rama dan Laksmana, tetapi ditolak. Karena sakit hati ia pergi mengadu ke kakaknya Rawana (17-18).

Rama dan Laksmana mengejar seekor kijang Kencana, yang sebenarnya adalah rasaksa Marica, pembantu Rawana.  Ketika Sita ditinggal sendiri, ia diculik oleh Rawana (19-21).

Sita ditolong oleh burung Jathayu, tetapi burung tersebut dapat dikalahkan oleh Rawana.  Sebelum mati, Jathayu sempat menceritakan perihal Sita kepada Rama (22-23).

Dalam perjalanannya mencari Sita, Rama dan Laksmana telah membebaskan bidadara dan bidadari yang dikutuk menjadi raksasa dan buaya,kemudian Rama bertemu Hanuman (24-26).

Rama menolong Sugriwa dengan membunuh Walin (Subali), kakak Sugriwa, kemudian mengangkat Sugriwa menjadi raja di gua Kiskenda.  Sugriwa berjanji akan membantu Rama memerangi Rawana (27-32).

Mulailah persiapan2 perang, Hanuman diutus ke Alengka menemui Sita (33-34).  Hanuman berhasil ketemu Sita di Alengka yang selalu dijaga/didampingi oleh Trijata, anak Wibhisana. Kemudian Hanuman tertangkap dan dihukum bakar.  Namun Hanuman tidak terbakar, bahkan ia membakar rumah-rumah di Alengka.  Kemudian ia kembali ke tempat Rama untuk melaporkan keadaan (35-39).

Setelah mendapat persetujuan dari dewa laut Waruna, Rama mengerahkan bala tentara monyetnya Sugriwa membuat jembatan di atas laut menuju Alengka , dan bersama-sama dengan bala tentaranya Rama dan Laksmana menuju Alengka (40-42).
Relief Ramayana Prambanan ini telah dibahas oleh W.F.Stutterheim tahun 1925 sebagai disertasinya.  Di samping itu  di tahun 1928 ia mencoba mencari makna simbolis relief naratif Ramayana, dan menurut pendapatnya penyusunan adegan cerita Rama ini sesuai dengan jalannya matahari mengitari bumi setiap hari:

~ Di sebelah timur:  turunnya Wisnu ke dunia sampai dengan kembalinya Rama ke Ayodhya   (matahari terbit)

~ Di sebelah selatan:  kehidupan perkawinan Rama-Sita  sampai dengan adegan di buang ke hutan (kebahagiaan memuncak)

~ Disebelah barat : Sita dilarikan Rawana sampai dengan kemenangan Rama atas Subali (mulai senja,matahari mulai surut)

~ Di sisi utara :  permusyawaratan Rama dengan Sugriwa untuk menyerang Alengka dan Hanuman diutus ke Alengka sampai dengan pembuatan jembatan (tambak) dan penyeberangan ke Alengka  (malam –menjelang pagi).

Seperti telah dikemukakan terdahulu, cerita Rama ini dilanjutkan di bagian dalam pagar langkan  candi Brahma  pada 18 panil.  Apa sumber cerita Ramayana ini belum ditemukan. Dari adegan-adegannya, cerita Rama tidak bersumber pada Ramayana karangan Walmiki, maupun kakawin Ramayana.

Pada dinding tubuh candi Siwa ini terdapat relief dewa-dewa penjaga 8 mata angin (Astadikpalaka), yang candi-candinya ada di halaman I tersebut terdahulu.

Salah satu dewa Astadikpalaka, yaitu Kuwera dengan empat pengiringnya Peripih adalah prana-pratistha

Perlu dikemukakan disini bahwa candi-candi Hindu pada umumnya mempunyai pendaman berupa peripih yang diletakkan di dalam sumuran yang ada di bawah lapik arca pada bilik utama. Candi Siwa sumurannya sedalam 13 meter. Ketika sumuran candi Siwa digali, sedalam 5,75 meter terdapat peti tempat peripih dari batu berisi manik-manik tercampur arang dan tulang2 binatang yang dipakai upacara yaitu kambing dan ayam, batu2 akik, inskripsi dan sebagainya. Peripih merupakan prana.pratistha, yaitu memberi “kekuatan hidup” pada bangunan candi tersebut, sehingga layak menjadi dewagrha (rumah dewa). Di samping di sumuran ada pula peripih di bagian2 candi lainnya, mungkin seperti halnya di Bali, penanaman peripih diadakan dua kali, yaitu sebelum bangunan didirikan dan sesudah bangunan selesai untuk diresmikan.

Candi-candi di kompleks Prambanan baik yang di halaman I maupun ke II mempunyai struktur yang mirip dengan struktur candi Siwa, namun dalam ukuran kecil, dan hanya memiliki satu bilik saja.

Candi Brahma

Candi Brahma terletak di sebelah selatan candi Siwa.  Ukuran tidak sebesar candi Siwa, berdenah bujur sangkar 20×20 meter dan tinggi 33 meter. Hanya mempunyai satu ruangan, yaitu ruangan utama (garbhagrha) yang berisi arca dewa Brahma bertangan 4 dan berkepala 4 pula, berdiri di atas lapik yoni .  Pada bagian dinding kaki candi terdapat panil-panil motif Prambanan  indah dan kaya variasi tokoh2 pengapit kalpawrksa. Di bagian luar pagar langkan  terdapat  tokoh2 berjenggot, memakai sirascakra  duduk bersila  dan tangan dalam berbagai sikap. Bagian atas pagar langkan dihias dengan amalaka tinggi, besar2 ukurannya berjumalh 72 buah,  yang menambah keindahan candi. Sementara itu pada bagian dalam pagar langkan terdapat relief lanjutan cerita Ramayana yang terpahat di candi Siwa.  Adapun adegan2nya mulai dari sisi timur secara singkat sebagai berikut:

Relief diawali oleh Rama dan Laksmana dan para dewa, apsari dan penghuni kahyangan lainnya bergembira dengan berhasilnya Rama sampai ke gunung Suwela di Alengka. Demikian pula para kera menikmati keindahan dan buah2an gunung Suwela (1-2).

Rawana berkepala 10 duduk berhadapan dengan seekor kera, yaitu Anggada yang bertindak sebagai utusan Rama, mengingatkan agar Rawana segera mengembalikan Sita.  Di antara Rawana dan Anggada terdapat periuk besar dan terlihat Rawana mengacungkan jempol mempersilahkan  menyantap suguhan (3).  Mulailah peperangan dan banyak bala tentara yang gugur (4-9).

Juga termasuk Kumbhakarna dan Rawana sendiri  (10-12).

Tidak diceritakan Rama dan Sita bertemu kembali, karena adegan2 selanjutnya menggambarkan bisikan2 sumbang tentang kesucian Sita setelah sekian lama ditawan oleh Rawana (13-16).

Sita terpaksa dibuang ke hutan, dan tinggal di pertapaan pendeta Wiswamitra (17-20).

Di pertapaan Sita melahirkan seorang anak (18), kemudian terdapat adegan orang2 yang berpakaian indah2 dengan muka ceria (19), Sita digambarkan memetik bunga dan buah2an (20).  Namun setelah itu tiba2 tidak hanya satu tetapi dua anak laki2 dalam berbagai adegan, berburu di hutan, menghadap sang rsi, bertempur melawan rasaksa, serta hadir pada suatu pertemuan. Dalam cerita Ramayana di India karangan Valmiki, diceritakan Siwa melahirkan dua putera yang diberi nama Kusa dan Lava. Namun dalam panil 18 terdapat adegan Sita melahirkan hanya terlihat satu bayi, entah mengapa yang satu lagi tidak diperlihatkan. Adegan dua anak laki2 hadir di suatu pertemuan, mungkin menggambarkan  kedua anak itu datang ke istana ayahnya sebagai penyanyi pada suatu pesta besar. Mereka menyanyikan riwayat Rama dan Sita. Adegan yang digambarkan di candi Brahma diakhiri dengan Sita yang ditelan bumi dan Rama sangat menyesal akan tindakannya terhadap Sita, tetapi tidak dapat berbuat apa pun.

Dinding tubuh candi Brahma, tidak dihias dengan relief Astadikpalaka seperti halnya candi Siwa, tetapi dihias relief manusia berjenggot pula. Dalam setiap relung/panil terdapat tiga tokoh berjenggot, yang ditengah duduk bersila, bertangan dua, dengan berbagai sikap, digambarkan duduk diapit tokoh2 lain. Tokoh2 berjenggot tersebut haruslah seorang tokoh dewa, karena memakai jatamakuta (rambut uang dipilin menjadi mahkota), dan diberi tanda kesucian (prabha) di sekitar kepalanya. Siapakah mereka belum jelas, namun ada yang berpendapat mereka adalah tokoh rsi dalam mitologi Hindu yang berjumlah tujuh (Saptarsi). Mereka  muncul setiap manwantara, yaitu  pembagian dari kalpa atau siklus penciptaan-penghancuran dunia (pralaya). Satu kalpa terdiri dari 14 manwantara. Walaupun jumlahnya selalu tujuh, namun tokoh resinya setiap manwantara berbeda2. Saat sekarang Saptarsi yang muncul  adalah Kasyapa, Atri, Wasistha, Wiswamitra,  Gautama, Jamadagni, dan Bharadwaja.  Para resi mitos ini dianggap sebagai “anak2 dewa Brahma”

Candi Wisnu

Candi Wisnu terletak di sebelah kanan candi Siwa, dan strukturnya sama dengan candi Brahma, hanya saja di dalam ruang utama (garbhagrha)  terdapat arca Wisnu setinggi 2,27 meter, bertangan empat, memegang gadha, segitiga (?), cakra dan sangkha bersayap.  Bagian kaki candi dihias oleh motif Prambanan  berjumah 16 buah, namun di antaranya ada yang tidak memakai singa di relung.
Bagian luar pagar langkan dihias oleh tokoh yang duduk di atas lapik berhias, dengan tangan dalam berbagai sikap, memakai jatamakuta, masing2 diapit oleh dua wanita. Siapakah tokoh tersebut, mungkin dewa Wisnu yang diapit oleh Sri dan Laksmi. Di bagian dalam pagar langkan terdapat relief cerita, yang diidentifikasi oleh Prof. Dr Poerbotjaroko (1915) sebagai cerita Kresnayana, dan Van Stein Callenfels  mengenal beberapa adegan, di antaranya adegan Kresna ketika masih kecil sangat nakal, dan diikat di sebuah lesung oleh ibu angkatnya. Namun Kresna masih bisa berjalan menyeret lesung batu, sehingga banyak pohon tumbang olehnya. Dengan berjalan mengkanankan candi (mapradaksina), urutan adegan2nya secara singkat sebagai berikut:

Menurut ramalan raja Kamsa akan dibunuh oleh anak2 Dewaki, sehingga Kamsa menyuruh bunuh anak2 Dewaki. Namun ada dua anak yang lolos dari maut, yaitu  Balarama dan Kresna karena ditukar dengan bayi lain (1-4).

Mereka dibesarkan oleh ibu angkat mereka bernama Yasoda  dan hidup di antara para gembala. Karena kenakalannya, Kresna pernah diikat di lesung batu oleh ibu angkatnya, namun Yasoda kesukaran mencari tali pengikat, karena talinya selalu kurang panjang.  Kresna dapat berjalan menyeret lesung, dan ketika melewati pohon2 sehingga pohon2 tersebut tumbang (5). Raksasi bernama Putana mencoba menyusui Kresna dan Balarama dengan air susunya yang beracun. Tetapi oleh Kresna diisap sedemikian kerasnya, sehingga Putana mati (6).

Kresna membela teman2 gembalanya, dengan membunuh rasaksa yang berwujud banteng, seekor ular besar dan seekor keledai (7-9).

Balarama yang bersenjatakan bajak dan Kresna terus berperang melawan rasaksa-rasaksa (10-14).

Adegan-adegan berikutnya sulit dikenali, kecuali satu adegan Kresna pergi ke tempat Kamsa dengan membawa busur yang besar (29).

Candi Wahana dan candi A dan B

Di hadapan ketiga candi tersebut di atas, terdapat tiga candi lebih kecil ukurannya, berderet, dan semula ketiganya disebut sebagai candi Wahana. Candi yang berhadapan dengan candi Siwa memang dapat disebut candi Wahana, karena berisi arca Nandi berukuran panjang tubuh dua meter, yang berbaring di tengah bilik, kemudian 2 arca lainnya Candra dan Surya. Arca Surya naik kereta ditarik oleh 7 ekor kuda, bertangan dua, memegang bunga teratai di depan dada. Arca Candra naik kereta ditarik oleh 10 ekor kuda,  tangan kanan memegang Soma dan tangan kiri memegang pataka (bendera).

Dua candi yang berhadapan dengan candi Wisnu dan candi Brahma tidak bisa disebut candi Wahana (Wahana berarti “kendaraan”), karena baik arca Angsa (wahana dewa Brahma) maupuin arca Garuda (wahana dewa Wisnu) tidak pernah ditemukan di candi2 tersebut. Pada candi yang berhadapan dengan candi Wisnu bahkan ditemukan sebuah arca Siwa dalam ukuran kecil, sedangkan sebuah arca Garuda dari desa Telaga Lor ada yang menempatkan di candi ini.  Oleh karena itu candi yang ada di depan candi Wisnu ini dinamakan candi A (bukan candi Garuda), dan candi yang berhadapan dengan candi Brahma disebut candi B.

Candi Perwara di Halaman II

Pada halaman ke II ini terdapat 224 buah candi perwara yang tersusun dalam empat baris, namun batu2nya telah banyak yang hilang sehingga  banyak candi perwara yang tidak mungkin dipugar lagi. Halaman ke II ini tanahnya miring, sehingga terdapat penjenjangan  keletakan baris2 tersebut.

Penempatan candi induk di tengah2 dan dikelilingi oleh candi Perwara merupakan kebiasaan yang dijumpai pada candi-candi Klasik Tua di Jawa Tengah. Candi Kalasan, candi Lumbung, candi Sewu, candi Plaosan Lor dan sebagainya,  dikelilingi oleh sejumlah candi Perwara. Sistim tata letak percandian semacam ini tidak kita jumpai pada candi-candi Klasik Muda di Jawa Timur. Misalnya pada candi Tegawangi, candi Panataran, candi Perwara  atau candi-candi yang lebih kecil ukurannya di tempatkan di halaman depan, sedangkan candi induknya di halaman  belakang   candi-candi Perwara tersebut.

Terdapat kemungkinan bahwa candi-candi Perwara ini didirikan oleh para pemberi wakaf (anumodha) seperti halnya dengan candi-candi Perwara di candi Plaosan Lor. Namun perbedaannya, candi-candi Perwara di Plaosan Lor mencantumkan nama-nama si pemberi wakaf, sedangkan di candi Prambanan tidak. Misalnya di candi Plaosan Lor menyebut “anumodha rakai pikatan”, “anumodha rakai gurunwangi” dan sebagainya.

Bilamana candi Prambanan didirikan, J.G. de Casparis, seorang ahli Epigrafi Jawa Kuna memperkirakan pada abad IX. Pendapatnya ini berdasarkan sebuah prasasti Siwagrha yang berasal dari tahun 778 Saka atau 856 Masehi. Pada prasasti itu disebut suatu gugusan candi yang ditahbiskan pada waktu pemerintahan Rakai Pikatan, seorang raja dari wangsa Sanjaya.

Candi Prambanan adalah candi Saiwa, hal ini jelas terlihat pada ukuran candi Siwa yang jauh lebih besar dari candi-candi Brahma atau Wisnu, serta berada di pusat kompleks percandian.  Agama Siwa sudah dikenal di Jawa Tengah pada sekitar abad VII Masehi dengan adanya suatu prasasti Sojomerto yang berhuruf Pallawa dan berbahasa Melayu Kuna, menyebut Dapunta Selendra yang beragama Siwa. Setelah prasasti Sojomerto, ada prasasti yang sangat penting dalam pemberitaan agama Siwa, yaitu prasasti Canggal dari tahun 732 Masehi dan menyebut nama raja Sanjaya, anak Sanna. Prasasti ini berbahasa Sansekerta dan berhuruf Pallawa, yang menyebut pendirian sebuah lingga di bukit Sthirangga, untuk kebahagiaan rakyat (Sanjaya). Kemudian 5 bait  berikutnya berisi puji2an untuk dewa Siwa, Wisnu dan Brahma, namun puji2an untuk Siwa disebut dalam 3 bait, sedangkan Wisnu dan Brahma, masing2 dalam 1 bait.  Siwa dalam prasasti itu disebut bermata tiga, mempunyai 8 tubuh (astatanu) dan dipuja oleh para Yogin. Dengan menyebut 8 tubuh Siwa, berarti Siwa sebagai dewa tertinggi berada dimana2 di seluruh alam semesta, karena 8 tubuh ini adalah matahari, bulan, Yajamana (manusia), 5 mahabhuta yaitu air, api, tanah, udara, angin.

Pada tahun 1991 ketika diadakan pemugaran candi A dan candi B, telah ditemukan peripih di sumuran candi B yang menyebut dewa-dewi dasa lokapala (penjaga 10 mata angin), menyebut ajaran dalam agama Hindu yang penting bagi mereka yang menghendaki moksa, yaitu ajaran “dharma” yang dalam agama Hindu berarti “kewajiban semua mahluk”, “wairajya” adalah latihan untuk melenyapkan ke-aku-an ( ahamkara) dan “jnana” adalah pengetahuan suci untuk melenyapkan kebodohan (awidya), sehingga tercapailah moksa, yaitu bersatunya Atman dan Brahman yang diidentifikasikan dengan Siwa dalam agama Hindu-Siwa. Kemudian inskripsi tersebut menyebut kalimat om pascima gatra ya namah, yang berarti “Hormat kepada (bayangan) tubuh penguasa barat” dan penguasa barat disini adalah Siwa Mahadewa, karena apabila kita melihat susunan dewa-dewa Nawasanga (9 wujud Siwa), Mahadewa adalah penguasa sebelah barat. Sementara itu arca dewa Siwa Mahadewa ada di ruang tersuci (garbhagrha)  candi Siwa.
Candi Negara atau Kerajaan Mataram Kuno

Dari data artefaktual maupun prasasti, candi Prambanan adalah candi untuk pemujaan dewa Siwa, namun yang mengherankan adalah mengapa relief cerita bukan cerita tentang Siwa, melainkan tentang dewa Wisnu. Wisnu dalam agama Hindu adalah dewa pelindung manusia, dan di Jawa khususnya Wisnu dipuja oleh para raja dan para pahlawan. Raja memuja Wisnu, karena dewa tersebut telah mengajarkan niti atau sikap raja yang berjumlah 8 dalam Ramayana kepada Bharata, dan di Jawa ajaran tersebut dikenal sebagai astabrata. Oleh karena itu dewa Wisnu selalu menjadi istadewata (dewa pelindung) raja2, walaupun raja tersebut beragama Siwa. Dengan dipahatnya cerita2 tentang Wisnu, serta memperhatikan gugusan candi Prambanan yang sangat besar, penulis berpendapat bahwa candi Prambanan adalah candi negara atau candi kerajaan Mataram Kuna.  Memang pada masa Mataram Kuna ada 2 wangsa raja, yaitu wangsa Sailendra yang beagama Buddha dan wangsa Sanjaya yang beragama Hindu-Siwa. Namun terjadilah pernikahan antara Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya dengan Pramodhawardhani puteri wangsa Sailendra yang beragama Buddha, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa candi negara bersifat agama Siwa.

Perlu penulis kemukakan disini, bahwa beberapa ratus tahun kemudian, yaitu pada masa kerajaan Majapahit, kejadian itu terulang lagi, yaitu candi negara (kerajaan) Majapahit yaitu candi Panataran diberi relief cerita Ramayana dan Kresnayana pada dinding candi induknya.

tulisan dari, Prof. DR. Hariani Santiko

Gallery | This entry was posted in pengetahuan, prambanan, sekilas tentang benda budaya, sekilas tentang budaya and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s