Arca Dhayani Budha yang terletak di Borobudur

Patung Dhayani Budha yang berada di Borobudur berjumlah total 504 (pada permulaan-nya), tetapi sekarang 300 lebih dalam keadaan rusak (rata – rata kepalanya hilang) sedang 43 yang lain hilang sama sekali.

Nama – nama Budha Vairocana, Amitabha, Amoghasiddhi, Ratnasambhava dan Akshobya dikenal di dalam tradisi Vajrayana (Mahayana) dengan sebutan Panca Dhayani Buddha (Lima Buddha Tinggi).
Masing – masing Dhayani Buddha mempunyai Dhayani Bodhisatva.
1. Dhayani Buddha Akshobya ——- Dhayani Bodhisatva Vajrapani
2. Dhayani Buddha Ratnasambhava — Dhayani Bodhisatva Ratnapani
3. Dhayani Buddha Amitabha ——- Dhayani Bodhisatva Avalokitesvara
4. Dhayani Buddha Amoghasiddhi — Dhayani Buddha Visvapani
5. Dhayani Buddha Vairocana —— Dhayani Bodhisatva Samanthabadhra

Arah mata angin            : Timur, Wetan, East
Nama patung budha     : Dhayani Budha Aksobhya (Yang Tak Terganggu)
Nama mudra                  : Bhumisprasa-mudra

Bentuk Mudra :
Tangan kiri mengenadah di atas pangkuan, sedang tangan kanan menempel pada lutut kanan dengan (telapak menengadah kebawah/menelungkup) jari menunjuk kebawah.

~ Sikap tangan ini dilakukan Sang Buddha sewaktu menghadapi ancaman dan godaan Mara (Raja kegelapan). Sang Buddha terpaksa memanggil Pretiwi (Bunda Kehidupan Bumi) untuk memberikan kesaksian siapakah diantara Buddha atau Mara yang berhak untuk berada diatas bumi dan menempati tempat meditasinya.

Arah mata angin            : Selatan, Kidul, South
Nama patung Budha     : Dhayani Budha Ratnasambhawa (Yang Terlahir Sebagai Mustika Bumi)
Nama mudra                  : Wara-mudra

Bentuk Mudra :
Tangan kiri terbuka dan menengadah dipangkuan, sedang tangan kanan menempel pada lutut kanan menengadah kearah atas, jari – jari menunjuk kearah atas.

~Sikap tangan ini dipakai jika Sang Buddha melakukan suatu pemberkatan atau pemberian.


Arah mata Angin           : Barat, Kulon, West
Nama patung budha     : Dhayani Budha Amithaba (Cahaya Tanpa Batas)
Nama mudra                  : Dhayana-mudra

Bentuk Mudra :
Kedua tangan kanan diletakkan dipangkuan, yang kanan diatas yang kiri, dengan telapak  kanan menengadah dan kedua jempolnya saling bertemu.

~ Sikap tangan ini dipakai manakala Sang Buddha bersemedi.

Arah mata angin            : Utara, Lor, North
Nama patung budha     : Dhayani Budha Amoghasiddhi (Yang Tak Pernah Gagal)
Nama mudra                  : Abhaya-mudra.

Bentuk mudra :
Tangan kiri terbuka dan  menengadah dipangkuan, sedang tangan kanan diangkat sedikit diatas lutut sebelah kanan dengan telapak menghadap kemuka.

~ Sikap tangan ini dipakai manakala Sang Buddha menolak bahaya

Arah mata angin       : Pusat/central/tengah
Nama patung budha     : Dhayani Budha Wairocana (Yang Cemerlang)
Nama mudra            : Witarka-mudra

Bentuk Mudra :
tangan kiri terbuka di atas pangkuan dan tangan kanan sedikit terangkat di atas lutut kanan dengan telapak menghadap ke muka dan jari telunjuknya menyentuh ibu jari.

~ Sikap tangan ini dipakai manakala Sang Buddha sedang mengajarkan sesuatu

*Keterangan tambahan
~ Di tempat lain kadang Dhayani Budha Wairocana digambarkan dengan mudra  Dharmachakra-mudra.
~ Pintu masuk Borobudur ada di sebelah timur dan memutarnya melalui cara pradaksina (berputar searah jarum jam, timur – selatan – barat – timur)

Gallery | This entry was posted in Borobudur, pengetahuan, sekilas tentang benda budaya, sekilas tentang budaya and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Arca Dhayani Budha yang terletak di Borobudur

  1. Konsep Adi Buddha ini menurut tradisi Vajrayana/Tantrayana menunjukkan prajna dan benih Kebuddhaan dalam setiap insan(Tataghatagarbha).

    Sebutan lain Adi Buddha:
    Mahavairocana (kitab-kitab Buddhis bahasa Kawi),
    Vajradhara (Tradisi: Kargyud & Gelug),
    Samantabhadra (Tradisi : Nyingma),

    Untuk menjelaskan konsep Adi Buddha dalam Vajrayana/Tantrayana :

    – Seperti yang diketahui Trikaya yang dimiliki seorang Buddha : Dharmakaya (Tubuh Kebenaran), Samboghakaya (Tubuh kebahagiaan) dan Nirmanakaya(Tubuh penjelmaan).

    – Dharmakaya adalah karakteristik dari semua Buddha misal Mahavairocana. Sewaktu seorang Buddha ingin menampakkan dirinya, ia muncul lewat sambhogakaya misalnya dalam wujud Amitabha Buddha. Sewaktu ia datang ke dunia samsara ini, ia menggunakan tubuh penjelmaan untuk mencapai tujuan tujuan tertentu misal dalam wujud Sakyamuni Buddha.

    – Dalam tradisi Tantra Panca Dhyani Buddha (Panca Tathagata) dalam…

    1. Mandala Vajradatu
    Mahavairocana (Tengah)
    Akshobya (Timur)
    Ratnasambhava (Selatan)
    Amitabha (Barat)
    Amoghasiddhi (Utara)
    2. Mandala Garbhadatu
    Mahavairocana (Tengah)
    Ratnadhvaja (Timur)
    Kaifuhuawang (Selatan)
    Amitabha (Barat)
    Divyadundubhimeghanirghosa (Utara)

    Mandala melambangkan formasi dan fenomena alam dharma/semesta. Panca Dhyani Buddha digunakan untuk melambangkan Maha Prajna dari setiap Buddha (dikatakan semuanya berasal dari Mahavairocana[Maha Anuttara Prajna]).

    – Panca Dhyani Buddha disebut juga Panca Vajradhara dan Vajrasattva adalah manifestasi dari Panca Vajradhara yang merupakan Vajradhara ke-6 yang juga dikenal sebagai Vajrapani dan vajracitta (nama yang berbeda dari Trikaya Vajrasattva).
    Bodhisattva Nagajurna merupakan pemegang silsilah pertama dari Vajrayana dalam wujud manusia setelah menerima ajaran langsung dari Vajrasattva.

    Semua fenomena alam semesta sendiri merupakan kombinasi dari tanah, air, api, angin, akasha (ruang) dan pikiran (kesadaran). Begitu juga Mahavairocana tersusun dari kombinasi 6 komponen tersebut. Sehingga Mahavairocana tidak berbeda dengan diri kita. Sehingga dikatakan saat anda menyatu dengan Mahavairocana [Maha Anuttara Prajna] maka anda adalah Buddha. Dari sinilah konsep Adi Buddha timbul dalam Vajrayana/Tantrayana. ~ ANDA ADALAH BUDDHA dan BUDDHA ADALAH ANDA ~

    Dalam Tataghatagarbha Sutra :

    ……The Buddha can really see the tathagatagarbhas of sentient beings. And because he wants to disclose the tathagatagarbha to them, he expounds the sutras and the Dharma, in order to destroy klesas and reveal the buddha nature. Good sons, Such is the Dharma of all the buddhas.

    Whether or not buddhas appear in the world, the tathagatagarbhas of all beings are eternal and unchanging. It is just that they are covered by sentient beings’ klesas. When the Tathagata appears in the world, he expounds the Dharma far and wide to remove their ignorance and tribulation and to purify their universal wisdom……….

    Dalam salah satu versi dari Bhagavati Prajna Paramita Hrdaya Sutra (Sutra hati) :

    ……Bodhisatva tidak mempunyai apa yang perlu dicapai, Ia berada dan berdiam di dalam prajnaparamita. Tiada rintangan dalam pikiran. Tanpa rintangan dalam pikiran, Ia tidak memiliki rasa takut serta tiada rintangan kesempurnaan. Hingga akhirnya, Ia mengatasi khayalan menyesatkan dan mencapai Nibbana Sejati.

    Dalam Sutra Raja Agung Avalokitesvara (Kao Wang Kwan She Ying Cen Cing):

    …………Namo Maha Prajnaparamita shi ta shen cou
    Namo Maha Prajnaparamita shi ta ming cou
    Namo Maha Prajnaparamita shi wu shang cou
    Namo Maha Prajnaparamita shi wu teng teng cou………

    Dalam Dhammapada 11 :

    Mereka yang menganggap ketidakbenaran sebagai kebenaran, dan kebenaran sebagai ketidakbenaran maka mereka yang mempunyai pikiran keliru seperti itu tak akan pernah dapat menyelami kebenaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s