Arkeoastronomi dan Astroarkeologi Mengungkap Pertanggalan Prasasti dan Candi

Arkeologi merupakan ilmu yang interdisipliner. Dalam beberapa hal, untuk memecahkan suatu persoalan, arkeologi tidak bisa bekerja sendiri. Ada sejumlah disiplin yang selama ini sering memudahkan pekerjaan arkeologi. Pakar zoologi, misalnya, membantu analisis temuan tulang hewan purba. Pakar metalurgi menganalisis temuan artefak logam. Belum lagi pakar-pakar kimia, fisika, sosiologi, sejarah, antropologi, kedokteran, dan lain-lain.

Kerja sama dengan berbagai pakar ini sudah dilakukan sejak lama. Arkeologi modern dirasakan besar manfaatnya untuk mengetahui lebih dalam tentang masa lampau. Wajah raja Tutankhamun dari masa Mesir purba, sebagai contoh, berhasil direkonstruksi hanya dari mumi yang ditinggalkannya. Penafsiran ini dilakukan bekerja sama dengan pakar kedokteran forensik, multimedia, dan lainnya. Kemudian sebagian isi piramida Mesir yang mahabesar itu, berhasil ditelusuri lewat kerja sama dengan pakar robot, komputer, dan lainnya.

Ilmu pengetahuan tentang masa lampau, memang bukan untuk kepentingan arkeologi semata. Banyak disiplin lain juga perlu berkaca, karena setiap disiplin ilmu selalu berkesinambungan. Maka kemudian lahirlah disiplin baru yang mengusung istilah ’paleo’ dan ’arkeo’ untuk menunjukkan masa lampau, misalnya paleo-botani, arkeo-astronomi, dan arkeologi sosiologi. Pengetahuan ini bisa didalami oleh arkeolog yang tertarik bidang itu, ataupun sebaliknya, oleh mereka yang berminat pada arkeologi.


Contoh kasus

Boleh dikatakan hingga saat ini arkeologi di Indonesia masih bersifat tradisional. Artinya, arkeolog yang memiliki kemampuan di bidang disiplin lain masih terbilang langka. Padahal, kecanggihan teknologi, sumber referensi, dan perlengkapan penelitian, sudah amat mendukung. Dari banyak disiplin, astronomi dan astrologi patut kita jadikan contoh kasus. Pengetahuan ini sudah berusia tua karena sejak zaman purba sering dipelajari dan diterapkan oleh nenek moyang kita.

Berbagai fenomena alam, termasuk peredaran benda langit, sejak lama sudah diamati oleh manusia. Di antara benda-benda langit itu, matahari dan bulan lebih banyak mendapat perhatian manusia karena pergantian siang dan malam selalu silih berganti. Pengamatan yang terus-menerus ini kemudian menghasilkan penemuan tentang astronomi dan kalender. Saat ini ada tiga jenis kalender yang dikenal manusia, yaitu kalender bulan (lunar), kalender matahari (solar), dan kalender gabungan bulan-matahari (lunisolar).

Dari sejumlah warisan budaya nenek moyang, diyakini yang paling banyak berhubungan dengan astronomi dan kalender adalah prasasti dan candi. Prasasti menjadi penting karena pada umumnya menyebut unsur-unsur penanggalan. Menurut sejumlah epigraf (pakar prasasti), unsur-unsur penanggalan yang tercantum dalam prasasti, umumnya ditulis berdasarkan kalender Jawa kuno. Kalender Jawa kuno ini justru banyak dipengaruhi oleh kalender Hindu (India).

Pada 1952 seorang epigraf asing, Louis Charles Damais, pernah mengupas unsur-unsur penanggalan pada prasasti-prasasti Indonesia dan mengonversikannya dari tarikh Saka menjadi tarikh Masehi. Sayang penelitian Damais tidak sampai meliputi seluruh unsur penanggalan yang ada dalam prasasti. Ketika itu pemahaman mengenai unsur-unsur penanggalan dalam prasasti dengan posisi benda-benda langit belum semua terungkap.

Pada 1990-an epigraf Museum Nasional, Trigangga, mulai melakukan kajian baru. Dalam kajian tersebut digunakan 85 buah prasasti batu dan logam dari masa kerajaan Mataram Kuno hingga kerajaan Majapahit, yang memuat 7-15 unsur penanggalan. Dengan pemahamannya akan astronomi modern, Trigangga berupaya menjelaskan unsur-unsur penanggalan Jawa kuno dan posisi benda-benda langit sekarang.

Astronomi

Pada mulanya astronomi dan astrologi dipandang sama karena objek pengamatannya adalah benda-benda langit. Namun sejak abad ke-18, kedua disiplin tersebut mulai dianggap sebagai cabang ilmu yang terpisah. Saat ini astronomi menelaah objek dan fenomena benda langit, sementara astrologi menelaah peristiwa berdasarkan posisi benda-benda langit.

Pengetahuan ilmu perbintangan (wariga) Jawa kuno yang mendapat pengaruh budaya India, ternyata cenderung kepada astrologi. Kalender Hindu sendiri telah mengalami banyak perubahan, sementara kalender Jawa kuno yang sebagian mengadopsi kalender Hindu, mengacu kepada kalender lunisolar. Dibandingkan kalender India, unsur-unsur penanggalan pada kalender Jawa kuno sangat lengkap, terdiri atas warşa (tahun), māşa (bulan lunar), samkrānti (bulan solar), tithī dan pakşa (satuan waktu yang lebih kecil dari bulan lunar), nāma tithī (siklus lima harian dalam bulan lunar), karaņa (setengah hari lunar), wāra (hari solar), wuku (unsur penanggalan asli Jawa), nakşatra dan dewatā (sekelompok bintang), yoga (pergerakan bulan dan matahari secara bersamaan dalam mengelilingi bumi), grahacāra (lintasan planet), maņdala (wilayah pengelompokan bintang), parwweśa (simpul), rāśī (zodiak), dan muhūrta (satuan waktu terkecil dalam sistem penanggalan Jawa kuno).

Penyempurnaan metode penanggalan oleh Trigangga ini diharapkan mampu merekonstruksi unsur-unsur penanggalan prasasti yang hilang atau kurang lengkap. Selain itu untuk memberikan pertanggalan pada candi karena biasanya candi berhubungan dengan prasasti.

Astrologi

Astrologi sering kali dihubungkan dengan ramalan bintang berdasarkan 12 tanda zodiak. Sesungguhnya, astrologi lebih luas daripada sekadar 12 zodiak. Secara umum, astrologi mempelajari keterkaitan antara siklus benda-benda langit dan kehidupan manusia di muka bumi.

Astrologi dikembangkan dan dipelajari karena berguna untuk memahami diri manusia di alam semesta ini. Landasannya adalah observasi atau pengamatan. Itulah sebabnya astrologi bersifat ilmiah. Pengumpulan data dilakukan selama berabad-abad, kemudian ditarik suatu hipotesis.

silahkan di click disini untuk mengetahui tentang The Zodiac Wheel and the Planets

Di Eropa pengetahuan astrologi dipelajari di perguruan tinggi. Secara umum analisis astrologi menggunakan sepuluh planet dan 12 tanda zodiak. Perkakas utama untuk melakukan prediksi adalah data kelahiran. Komponen bagan kelahiran dilengkapi dengan ’rumah’ (houses). Ada 12 rumah yang mewakili aspek-aspek kehidupan manusia. Selain mengamati posisi planet dalam tanda zodiak, astrologi juga menafsirkan makna sebuah bagan kelahiran berdasarkan letak planet pada masing-masing rumah. Hal-hal lain yang diperhatikan astrologi adalah cusp (garis-garis seperti jeruji yang membatasi masing-masing rumah), aspek (kedudukan relatif masing-masing planet dalam besaran sudut), dan orb (sudut penyimpangan maksimal 7 derajat).

Pembacaan dan penafsiran bagan kelahiran astrologi, menurut Ivan Taniputera dalam bukunya Astrologi dan Sejarah Dunia, memperhatikan simbolisme masing-masing planet. Matahari melambangkan cahaya, kekuatan, vitalitas, semangat, penguasa, dan otoritas. Selanjutnya Bulan (emosi, gejolak perasaan), Merkurius (kepesatan, kecepatan, dialog, perdebatan, komunikasi), Venus (cinta, kecantikan, keindahan, seni), Mars (peperangan, perselisihan, agitasi, keberanian, kejantanan), Yupiter (keberhasilan, kelimpahan, kebudayaan), Saturnus (pertanian, kultivasi tanah, hambatan, rumah sakit, penjara), Uranus (bumi, kemerdekaan, kebebasan, inovasi), Neptunus (lautan, misteri, imajinasi, kecanduan alkohol), dan Pluto (kematian, pembunuhan, energi atom, ledakan, wabah, dominasi, teknologi tinggi).

Perlu diketahui, astrologi memiliki banyak cabang, antara lain Astrologi Kepribadian, Astrologi Kesehatan, dan Astrologi Keuangan. Khusus yang berhubungan dengan prasasti, bisa digunakan Astrologi Negara dan/atau Astrologi Politik. Namun kedua bidang ini belum populer sehingga sulit mencari referensi tentang hal tersebut.

Prasasti, sebagai artefak yang mengandung unsur-unsur penanggalan, mungkin saja bisa dianalisis dengan metode astrologi. Sayang hal seperti ini belum diuji coba. Kemajuan teknologi seharusnya membawa wawasan kita untuk melakukan penelitian atau perubahan. Disayangkan, minat demikian belum dimiliki oleh sebagian besar ilmuwan kita. Padahal bukan tidak mungkin astronomi dan astrologi, akan membantu pengungkapan prasasti. Dengan demikian perbendaharaan informasi kepurbakalaan semakin bertambah.

Astroarkeologi

Dulu orang sangat mengesampingkan astronomi sebagai ilmu bantu arkeologi. Tak sedikit pun terpikirkan apa yang bisa dimanfaatkan arkeologi dari ilmu itu. Padahal sesungguhnya sejak lama masyarakat purba di berbagai belahan dunia sudah familiar dengan astronomi dalam bentuk yang paling sederhana. Mereka selalu menggunakan bintang sebagai petunjuk arah dalam pelayaran. Mereka selalu memanfaatkan peredaran matahari untuk mendirikan bangunan. Mereka pun selalu memperhitungkan perjalanan bulan untuk menyucikan bangunan.

Bila diamati dengan seksama dari udara, Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon (dari masa sekitar abad ke-9 Masehi) di daerah Muntilan, Yogyakarta, berada dalam satu garis lurus, padahal lokasinya saling berjauhan. Bagaimana bisa begitu, tentu mereka sudah mengenal ilmu astronomi dengan baik.

Selain di Indonesia, berbagai suku Indian kuno di Amerika Tengah dan Amerika Selatan juga mengamati peredaran matahari atau bulan untuk mencari kiblat bangunan yang mereka dirikan. Berbagai temuan menunjukkan sejumlah bangunan kuno yang letaknya berjauhan, ternyata memiliki arah kiblat yang sama. Uniknya, masa pembuatan bangunan-bangunan itu tidak bersamaan. Dengan demikian disimpulkan bahwa prinsip-prinsip astronomi sudah dikenal sejak zaman dulu.

Keterampilan bangsa purba itu telah mengusik sejumlah pakar Barat untuk mengembangkan ilmu astronomi yang lebih modern. Maka kemudian lahirlah ilmu arkeoastronomi (archaeoastronomy), yaitu ilmu yang mempelajari astronomi masa lalu berdasarkan data tertulis dan data tidak tertulis.

Ilmu arkeoastronomi kemudian dikembangkan lagi. Salah satu cabang ilmu arkeoastronomi yang berhubungan dengan arkeologi disebut astroarkeologi (astro-archaeology). Astroarkeologi mempelajari astronomi berdasarkan pola, tata letak, dan arsitektur bangunan purbakala.

Pelopor astroarkeologi adalah Norman Lockyer, seorang astronom Inggris dari abad ke-19. Pada awalnya dia beranggapan bahwa bangunan-bangunan suci di Mesir kuno berhubungan dengan gejala astronomi. Pola, tata letak, dan arsitektur bangunan dirancang bersesuaian dengan posisi matahari atau benda astronomi lainnya. Dia yakin kalau semua bangunan Mesir kuno dibangun berdasarkan prinsip-prinsip astronomi.

Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, Lockyer berusaha mencari tahu pertanggalan bangunan Mesir kuno. Dia menganggap Piramida Cheops paling berhubungan dengan bintang Pleiades. Diduga pada saat pembuatannya, Piramida Cheops diorientasikan ke bintang Pleiades itu.

Menurut catatan para astronom, posisi atau azimut bintang Pleiades selalu berubah, dengan kala edarnya 26.000 tahun. Maka dengan mengukur azimut Piramida Cheops dan bintang Pleiades, Lockyer menyimpulkan bahwa Piramida Cheops dibangun sekitar tahun 1750 SM.

Tahun 1963 muncul penelitian dari Gerald Hawkins terhadap Stonehenge di Inggris. Hawkins berkesimpulan bahwa Stonehenge dibangun sekitar tahun 2000-1500 SM. Ditafsirkan pula kalau Stonehenge merupakan observatorium purba untuk mengukur posisi matahari dan bulan. Bahkan dapat digunakan untuk meramalkan gerhana.

Selanjutnya pada 1974 Thompson mengungkapkan pandangan suku Maya dan Inca di Amerika Selatan terhadap alam. Ternyata banyak tinggalan, meskipun berupa serakan batu, erat berkaitan dengan pertanian. Hal ini diketahui dari data tertulis di Cerro Picchu. Sebuah naskah yang berasal dari tahun 1570 itu menyebutkan peristiwa musim tanam yang terjadi di wilayah Cuzco berdasarkan peredaran matahari.

Anthony F. Aveni dalam sebuah tulisannya mengungkapkan bahwa hasil yang diperoleh itu harus dicocokkan dengan hasil-hasil dari Asia Tenggara, Polynesia, dan Afrika yang termasuk daerah Tropis. Menurut Aveni, sebaiknya arkeoastronomi dipelajari oleh antropolog atau arkeolog karena mereka memiliki pengetahuan tentang latar belakang budaya masyarakat masa lalu.

Pertanggalan

Kejadian-kejadian di bumi diyakini berhubungan langsung dengan gejala astronomi. Pasang surut air laut, pergantian musim, dan perjalanan benda langit adalah akibat dari siklus astronomi. Pengetahuan manusia pada gejala-gejala astronomi ini membuat kehidupan manusia menjadi terencana, misalnya manusia dapat mengetahui kapan harus menangkap ikan atau bertani.

Penerapan ilmu astroarkeologi, meskipun masih merupakan barang baru, sudah saatnya perlu sekali dikembangkan di Indonesia. Sebagai bangsa yang pernah memiliki kebudayaan tinggi, jejak-jejak bangunan purbakala banyak terdapat di seluruh wilayah kita. Dari kesemuanya, sebagian terbesar berujud candi yang belum mempunyai pertanggalan. Artinya, masa pembangunannya belum diketahui pasti. Begitu juga masa peresmiannya.

Candi merupakan bangunan suci untuk tujuan keagamaan. Di Indonesia bangunan candi berasal dari masa Hindu dan Buddha. Menurut sumber kuno, pembangun candi adalah seorang arsitek (silpin) berdasarkan buku panduan silpasastra (ilmu tentang seni, sastra, dan mekanika bangunan). Silpasastra sendiri bersumber pada kitab kuno dari India, Manasara (ukuran standar yang hakiki). Menurut Manasara candi harus dibangun sesuai konsep Vastupurusamandala (denah suci tempat tumbuhnya intisari alam semesta).

Candi dibangun dengan tahap-tahap perencanaan bentuk, pencarian lokasi, pengujian tanah, penyiapan tanah, pembuatan Vastupurusamandala, pembuatan denah, dan pengerjaan fisik. Dari tahap itu, tampak sekali tahap pembuatan Vastupurusamandala menunjukkan adanya kaitan antara pembuatan candi dengan astronomi.

Berdasarkan keterangan dalam Manasara dan melakukan penghitungan saat-saat matahari berada di posisi yang sama dengan orientasi candi, orang meyakini akan dapat mengetahui bilamana candi itu dibuat. Penelitian seperti itu pernah dilakukan seorang arkeolog Indonesia, Eadhiey Laksito Hapsoro pada 1986.

Ketika itu Eadhiey mencobakan cara kerja astroarkeologi antara lain pada Candi Gunung Wukir. Candi ini terletak pada 7:38:05,82 derajat Lintang Selatan dan 110:17:43,4 derajat Bujur Timur, menghadap ke arah Timur 109:24:03,77 derajat. Candi Gunung Wukir ini mungkin berhubungan dengan Prasasti Canggal yang bertarikh 654 Saka atau 732 Masehi. Dari perhitungan, Eadhiey menafsirkan bahwa candi itu dibangun sekitar tahun 719 hingga 726.

Ternyata hasil penghitungan terhadap beberapa candi lain, juga menunjukkan hasil tidak jauh berbeda dengan tarikh prasasti. Candi Gunung Wukir sendiri memiliki penyimpangan 6-13 tahun. Kemungkinan besar, kata Eadhiey, tarikh prasasti bukan menunjukkan tanda mulai dilakukannya pembangunan, melainkan peringatan mulai atau telah berfungsinya suatu candi. Tentu dapat dianalogikan dengan penandatanganan prasasti di zaman modern ini, yang mengacu kepada peresmian suatu bangunan, bukan peletakan batu pertama.

Contoh tersebut menunjukkan cara kerja astroarkeologi dapat digunakan untuk membantu mengungkapkan masalah pertanggalan candi, meskipun harus disesuaikan dengan sumber-sumber lain. Penerapan pada candi yang tidak mempunyai prasasti, setidaknya akan memberi gambaran kapan candi itu dibangun atau diresmikan. Jika hal ini sudah diterima kebenarannya, astroarkeologi dapat pula diterapkan pada bangunan-bangunan prasejarah, masa yang mencakup ribuan tahun yang lalu.

Tarikh suatu bangunan purbakala akan mendukung pertanggalan temuan-temuan arkeologis lain. Meskipun pertanggalannya bersifat relatif, bukan tidak mungkin kronologi atau kisah sejarah bisa disusun lebih lengkap.

Candi Borobudur

Penempatan stupa induk di tingkat tertinggi dan relief di dinding candi Borobudur ternyata berhubungan dengan ilmu astronomi. Menurut hasil penelitian Tim Arkeoastronomi Borobudur, Institut Teknologi Bandung (Kompas, 19/5/2011), stupa induk candi Borobudur berfungsi sebagai gnomon (alat penanda waktu) yang memanfaatkan bayangan sinar Matahari.

Stupa induk dikelilingi 72 stupa terawang yang membentuk lintasan lingkaran di tingkat 7, 8, dan 9. Bentuk dasar ketiga tingkat itu plus tingkat 10 adalah lingkaran, bukan persegi empat sama sisi seperti bentuk dasar pada tingkat 1 hingga tingkat 6. Jumlah stupa terawang pada tingkat 7, 8 dan 9 secara berurutan adalah 32 stupa, 24 stupa, dan 16 stupa. Jarak antar stupa diketahui tidak persis sama. Pengaturan jumlah dan jarak antar stupa diduga memiliki tujuan atau makna tertentu. Jatuhnya bayangan stupa induk pada puncak stupa terawang tertentu pada tingkatan tertentu menunjukkan awal musim atau mangsa tertentu sesuai Pránatamangsa (sistem perhitungan musim Jawa).

Sebelum korelasi antara bayangan stupa induk dan stupa terawang diketahui, tim tersebut terlebih dahulu menentukan bayangan lurus stupa induk saat Matahari berada di garis khatulistiwa (garis 0 pada grafik lintasan awal musim). Pada saat itu Matahari terbit tepat di titik timur garis dan terbenam tepat di titik barat garis. Hasil ini menunjukkan posisi Borobudur sesuai arah mata angin. Arah utara-selatan menunjuk posisi kutub utara Bumi dan kutub selatan Bumi, bukan utara-selatan kutub magnet Bumi. Posisi itu ditentukan tanpa bantuan alat penentu posisi global (GPS = Global Positioning System).

Cara paling sederhana menentukan arah utara-selatan benar adalah menandai bayang-bayang gnomon pada lingkaran simetris. Jika bayang-bayang gnomon pada dua sisi lingkaran yang berseberangan dihubungkan, menunjukkan arah timur-barat benar. Garis yang tegak lurus dengan garis timur-barat benar adalah garis utara-selatan benar. Tim peneliti juga melihat apakah posisi stupa atau bayangan stupa memiliki hubungan dengan prediksi gerhana Matahari atau gerhana Bulan. Konfigurasi situs megalitik umumnya memiliki kaitan dengan penentuan waktu, baik kalender maupun prediksi gerhana.

Sayang tim belum mengetahui tahun tepat Borobudur didirikan berdasarkan struktur asli Borobudur. Struktur Borobudur saat ini merupakan hasil rekonstruksi beberapa kali yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda maupun Pemerintah Indonesia. Saat ditemukan tahun 1800 oleh tim yang dipimpin Sir Thomas Stamford Raffles dari Inggris, Borobudur hanya berupa puing-puing.

Penelitian arkeoastronomi masih baru di Indonesia. Aspek astronomis dalam candi Buddha juga jarang ditemukan. Karenanya ahli dan literatur yang ada masih terbatas. Kerja sama antara astronom dan arkeolog perlu dilakukan untuk lebih memperlancar penelitian.

Bintang Polaris

Salah satu bintang yang menjadi penunjuk arah adalah bintang Polaris, yaitu bintang yang terletak tepat di atas kutub utara Bumi hingga disebut sebagai Bintang Utara. Polaris menjadi acuan arah utara bangsa-bangsa di belahan Bumi utara. Nama bintang ini banyak disebut dalam sejumlah manuskrip umat Buddha.

Sebelum tahun 800, Polaris dapat dilihat dari Nusantara di sekitar Borobudur. Bintang terang ini mudah diamati karena hanya bergerak di sekitar horizon (ufuk langit). Namun, sejak tahun 800 hingga kini, posisi Polaris semakin di bawah horizon akibat gerak presesi (gerak Bumi pada sumbunya sambil beredar mengelilingi Matahari) sehingga Bintang Utara tidak mungkin lagi dilihat dari Nusantara.

Karena Polaris tak bisa diamati, pelaut mencari bintang penanda utara lain, yaitu rasi Ursa Mayor (Beruang Besar). Jika dua bintang paling terang dalam rasi ini, yaitu Dubhe dan Merak, ditarik garis lurus, akan mengarah ke Polaris. Hal ini membuat Ursa Mayor menjadi penanda arah utara lain.


Pentingnya rasi Ursa Mayor bagi masyarakat saat itu ditunjukkan oleh gambar relief bulatan-bulatan kecil pada tingkat ke-4 Borobudur di sisi utara. Tujuh bulatan kecil itu diapit oleh lingkaran besar yang diduga Matahari dan bulan sabit yang dipastikan simbol bulan.

Dari Bumi, Ursa Mayor terlihat sebagai tujuh bintang terang. Nama Dubhe dan Merak berasal dari bahasa Arab. Dubhe dari frasa thahr al dubb al akbar (punggung beruang besar), sedangkan Merak dari kata al marakk yang artinya pinggang karena posisinya di pinggang beruang.

Selain Ursa Mayor, tujuh bulatan itu diduga sebagai Pleiades (tujuh bidadari). Masyarakat Jawa mengenal kluster bintang terbuka ini sebagai Lintang Kartika. Nama ini berasal dari bahasa Sansekerta krttikã yang menunjuk kluster bintang yang sama. Kluster (kumpulan) bintang ini populer di Jawa karena kemunculannya menjadi penanda dimulainya waktu tanam.

Dugaan tujuh bulatan itu adalah Pleiades muncul karena hampir semua bangsa memiliki kesan mendalam dengan kluster bintang ini. Bangsa Jepang menyebutnya sebagai Subaru, sedangkan masyarakat Timur Tengah menamainya Thuraya. Namun, jika diamati dari Borobudur, posisi Tujuh Bidadari ini di dekat arah timur benar saat terbit dan di dekat arah barat benar saat terbenam. Posisi kluster ini tidak cocok dengan letak tujuh bulatan di dinding utara Borobudur. Kecil kemungkinan tujuh bulatan itu adalah Pleiades, melainkan Ursa Mayor karena posisinya menghadap Ursa Mayor yang menjadi penanda arah utara.

BACAAN PELENGKAP

Analisis Pertanggalan Prasasti

Masalah pertanggalan yang tidak lengkap atau rusak pada sebuah prasasti, memang perlu ditangani agar kronologi sejarah kuno Indonesia menjadi lebih lengkap. Dengan pengetahuan baru itu, Trigangga mencoba mereka ulang pertanggalan prasasti Prapañcasarapura yang sebagian besar unsur-unsur penanggalannya telah rusak. Pertama, harus diketahui lokasi penemuan prasasti tersebut, dalam hal ini Surabaya (LS 7° 14’ 24”; BT 112° 44’ 24”). Kedua, isi prasasti tersebut, yakni

[1] .—–ņa, tularâśi, irika diwaśa ny âjñâ paduka śri maharaja śrî wişņuwarddhani kŗtana [2] garamahârâjadohitra, ……. [4] ……tribhuwano [5] ttunggadewî jayawişņuwarddhaninâmarâjabhişeka…….( JLA Brandes, Oud-Javaansche Oorkonden 1913, prasasti nomor LXXXIV)

Dari isinya diketahui prasasti tersebut dikeluarkan oleh raja perempuan (ratu) Tribhuwanottunggadewi yang memerintah kerajaan Majapahit pada 1328 hingga 1350 M. Sayangnya, dari unsur-unsur penanggalan yang biasanya tercantum sampai 15 unsur, hanya tersisa satu unsur, yaitu tularâśi atau rasi Libra. Dengan demikian Trigangga harus memperbandingkannya dengan sumber-sumber sejarah lain.

Diperoleh ancar-ancar tahun penulisan prasasti Prapañcasarapura adalah antara tahun 1334 – 1343 M (1256 – 1265 Saka). Untuk mencari tahun pengeluaran yang pasti, Trigangga menggunakan beberapa metode. Dari hasil utak-atiknya itu diperoleh kesimpulan:

1 Kŗşņapaksa, Waisakha (hari lunar/Synodic Month)
Julian day number: 2209502.7625
Tanggal: 16 April 1337
Waktu: 13:48:01
Right Ascension: 14h 20m 39.29s
Declination: -17° 59′ 57.0″
Azimuth: 136° 46′ 20″
Altitude: -55° 12′ 12″
Illuminated fraction: 0.997
Moonrise: 18:08:22
Moonset: 6:02:12

Sidereal Month (Tula Rasi)
Julian day number: 2209502.7580
Tanggal: 16 April 1337
Waktu: 13:41:28
Right Ascension: 14h 20m 19.25s
Declination: -17° 58′ 25.1″
Azimuth: 138° 36′ 55″
Altitude: -56° 15′ 44″
Sign/Rasi: Libra
Fixed star: 9 Alpha2 Librae (Zuben el-Genubi)

(sementara ini masih digunakan istilah asli)

Prasasti Prapañcasarapura dikeluarkan pada 16 April 1337. Jika dikonversikan ke dalam tarikh Saka menjadi Śaka 1259. waiśâkha mâşa. pratipâda kŗşņapaksa, ha. wa. bu wâra. wiśakha nakşatra. cakra dewatâ. parigha yoga. bâyabyasthâ grahacâra, âgneya mandala, walawa karaņa, tûla râśi.

Penyempurnaan metode penanggalan oleh Trigangga ini diharapkan mampu merekonstruksi unsur-unsur penanggalan prasasti yang hilang atau kurang lengkap. Selain itu untuk memberikan pertanggalan pada candi karena biasanya candi berhubungan dengan prasasti. (berbagai sumber/Djulianto Susantio)

Gallery | This entry was posted in Borobudur, pengetahuan, prambanan, sekilas tentang barang, sekilas tentang benda budaya, sekilas tentang budaya and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Arkeoastronomi dan Astroarkeologi Mengungkap Pertanggalan Prasasti dan Candi

  1. todays date says:

    i love your blog, i have it in my rss reader and always like new things coming up from it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s